Akhirnya kesempatan untuk menyaksikan konser orkestra besar bertaraf internasional di Yogyakarta tercapai juga. Sabtu, 17 Oktober 2009 menjadi hari yang ditunggu-tunggu penggemar pertunjukan musik band dan orkestra di kota gudeg ini.
Dwiki Dharmawan World Peace Orchestra sukses menggelar konser malam itu yang diselenggarakan dalam rangka menyambut ulang tahun Universitas Gadjah Mada yang ke-60. Acara tersebut juga dibanjiri oleh banyak bintang tamu seperti Saat Borneo, Dewa Budjana, Agam Hamzah, Adhi Darmawan, Krisdayanti, Joe Rosenberg, Steve Thornton, dll. Bahkan turut hadir pula drummer muda berbakat, Alsa, yang mendapat applause dari penonton ketika diperkenalkan ke depan panggung.
Penampilan Dwiki WPO malam itu dibuka oleh Peni, sinden dari kota Solo yang hadir dengan musik bertempo yang pelan. Tampil pelan diawal, Dwiki langsung menghajar emosi penonton dengan lagu yang lebih klimaks dengan menghadirkan diva yang saat ini tengah menjadi buruan nomor satu wartawan infotainment, Krisdayanti. Entah karena sedang dilanda permasalahan rumah tangga atau mungkin juga bukan, KD (panggilan akrab Krisdayanti) menginginkan lagu yang lebih religius untuk dibawakan malam hari itu. Assalamualaikummenjadi kata sekaligus lagu yang pertama ia bawakan. Bisa dibilang lagu ini menjadi lagu yang mampu mengangkat emosi penonton. Lagu yang aslinya dibawakan oleh grup rohani Raihan itu dipoles habis-habisan oleh Dwiki menjadi jauh lebih megah. Jika tak salah melihat, saya mengingat saat itu Dwiki didukung oleh sekitar 5 - 7 unit keyboard sebagai senjata utamanya.
Setelah KD, tampil berikutnya adalah penyanyi fantastis asal serambi Mekkah, Rafly. Ini pertamakalinya saya menyaksikan penampilan Rafly yang memiliki teknik bernyanyi yang sangat khas. Dengan warna etnik khas Acehnya, ia melantunkan lagu berjudul Muekeondroe gubahannya. Hasilnya ia sukses memukau seluruh penonton yang hadir di gedung Graha Sabha Pramana. Sepertinya Rafly menjadi penampil yang paling memukau malam itu.
Lalu berikutnya tampil salah satu gitaris terbesar Indonesia, Dewa Budjana. Inilah untuk pertamakalinya Dewa Budjana tampil di Yogyakarta membawakan lagu instrumental. Pada kesempatan itu Budjana mengambil nomorOn The Way Home, yang diambil dari solo album terakhirnya, Home. Beberapa penampilan setelah Dewa Budjana, penonton disuguhi atraksi solo perkusi oleh musisi yang kini menetap di Malaysia, Steve Thornton. Namun salah satu pengamat musik lokal di kota ini menilai bahwa tak ada hal yang istimewa dari solo perkusi yang dipertontonkan oleh Steve. Namun kekecewaan itu segera terbayar dengan menyaksikan penampilan dari penyanyi yang akan segera merilis solo albumnya, Dira. Penyanyi yang satu ini termasuk penyanyi yang kurang familiar di telinga audiens Yogya. Namun skill olah vocalnya sampai membuat tergila-gila salah satu penonton yang saya temui. Kabarnya penyanyi yang satu ini akan segera merilis album dengan skala internasional.
Setelah diinvasi oleh musisi dari luar kota, kini giliran warga Yogya, Butet Kertaredjasa dan Singgih Sanjaya, yang unjuk kebolehan. Butet dengan pembawaan yang sederhana seperti biasanya selalu sukses memberikanawareness terhadap masyarakat dan kritik terhadap pemerintah dengan selipan isu sosial dan politik yang tengah hangat menjadi pembicaraan. Singgih Sanjaya yang merupakan pengajar di ISI Yogya tampil sebagai konduktor tamu menggantikan pos Dwiki Dharmawan saat membawakan Nyanyian Negeriku. Salah seorang praktisi dan pengajar musik yang jauh-jauh datang dari Semarang memberikan pendapatnya bahwa Dwiki dan Singgih memiliki 2 karakter yang berbeda. Menurutnya gaya aransemen Dwiki lebih kental nuansa bandnya ketimbang Singgih yang lebih kental orkestranya. Well, dua-duanya tetap keren.
Akhirnya tiba giliran musisi yang merupakan teman sekampung Komodo dari Flores, Ivan Nestorman. Ivan yang berasal dari NTT merupakan salah satu duta kampanye Vote Komodo yang paling mengerti situasi dan kondisi di tempat tersebut. Ivan pun membuktikan kecintaan akan kekayaan daerahnya dengan memainkan alat musik dan nyanyian tradisional rakyat Flores, Benggong-Banggong. Beberapa pihak menilai seharusnya penampilan Ivan ini diletakkan paling akhir acara karena lagu ini dianggap sebagai penampilan yang paling klimaks di sepanjang pertunjukan. Pada sesi ini Dwiki dan Ivan berlari turun panggung untuk berinteraksi ditengah lagu yang berjalan, sehingga membuat emosi penonton menjadi klimaks. Namun ternyata setelah Ivan tampil, konser masih menyajikan sekitar 4 lagu dan 1 sesi pidato sebelum akhirnya ditutup oleh Krisdayanti yang juga turut menampilkan seluruh bintang tamu untuk naik ke atas panggung.
Secara keseluruhan acara ini termasuk konser yang sukses. Sepertinya sudah lama sekali kota Yogya tidak mendapatkan pertunjukan orkestra sebesar ini. Sebagai informasi tambahan, konser ini didukung oleh 39 pemain orkestra lokal, 4 pemain gamelan Bali, 9 penari Janger, sekitar 20 anggota penyanyi paduan suara setempat, dan musisi-musisi lainnya. Kolaborasi antara musisi Jakarta dan Yogya sukses menghibur ribuan penonton yang memadati gedung pertunjukan malam itu. Mudah-mudahan konser seperti ini juga menjalar ke daerah-daerah lain dengan frekwensi yang lebih sering.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar